Pesan dari tim sukses Sutiyoso for President. Mulai bulan ini sampai 2009 nanti, hindari menu makanan sbb : - Es Beye - Sup Kalla - Mie Gawati - Jus Dur - Sayur Paloh - Jagung Laksono - Bakar Tanjung - Ubi Ranto - Bakpao Jibowo - Udang Dorojatun
Sebaiknya pilih menu makanan yg SEHAT & BERMANFAAT, yakni : Soto Yoso !!!!
He…he…he (It's only jokes)
"Hak seorang muslim atas muslim lainnya ada enam perkara: (1) Apabila engkau menjumpainya engkau berikan salam kepadanya (2) Apabila ia mengundangmu engkau memperkenankan undangannya (3) Apabila ia meminta nasehat, engkau menasehatinya (4) Apabila ia bersin dan memuji Allah, hendaklah engkau mentasymitkannya (berdoa untuknya) (5) Apabila ia sakit hendaklah engkau menjenguknya (6) Apabila ia mati hendaklah engkau antarkan jenazahnya." (HR.Muslim dan Tirmizi)
| Category: | Computers & Electronics | | Product Type: | Other | | Manufacturer: | Teknologi Nikrkabel |
Internet Murah Tanpa Kabel, Hayoo Coba....
Warga sejumlah perumahan di Jakarta, Bogor, dan Bandung membangun jaringan Internet nirkabel. Murah, mudah, cepat, dan aman.
Otaknya berputar keras. Tagihan telepon sebesar Rp 700 ribu sebulan cukup membebani keuangan rumah tangganya. Internet yang hanya dipakai dua atau tiga jam begitu menyedot rekening. Namun, Gatot Sutrisno, warga Perumahan Bukit Permata, Cimahi, Jawa Barat, tetap membutuhkan akses Internet. Dia perlu karena pekerjaannya di bidang teknologi pada pabrik garmen. Belum lagi kebutuhan anaknya yang masih sekolah menengah pertama mengumpulkan bahan tugas sekolah. Aha, mengapa tidak urunan saja dengan tetangga?
Gatot berhasil mengumpulkan dan meyakinkan sembilan tetangganya. Mereka bergotong-royong membeli tiang pancang dengan dua antena pada Februari lalu. Harganya sekitar Rp 8 jutaan. Jadilah warga perumahan itu mengakses Internet di rumahnya. Tidak perlu ke warnet atau mengeluarkan uang besar. Warga cukup bayar iuran Rp 150 ribu sebulan dengan akses 24 jam. ”Jadinya lebih murah, mudah dan cepat,” kata Gatot pekan lalu.
Kini para tetangga bisa menikmati kerja gotong-royong itu. Misalnya, Taufik Rahman. Mahasiswa Lembaga Pendidikan Komputer Indonesia Amerika (LPKIA) angkatan 2005, sekarang lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah. Dia bisa mencari bahan tugas kuliahnya di rumah. Atau sekadar mengobrol dengan temannya melalui Internet. Tak perlu ke warnet yang rata-rata sewanya Rp 3.500 sejam.
Konsep patungan Internet telah diperkenalkan Michael S. Sunggiardi, pendiri PT Bonet Utama Bogor, sejak 1999. Saat itu Michael membuat sambungan Internet dari kantor ke rumahnya. Beberapa tetangganya tertarik bergabung. Dia pun menyebutnya RT/RW Net. Setelah melakukan berbagai percobaan membuat pemancar yang dapat mengakses Internet, akhirnya Michael dan timnya memperkenalkan teknologi jaringan nirkabel. Ia dibantu temannya, Onno S. Purbo, pakar teknologi informasi.
Jaringan nirkabel prinsipnya menggantikan fungsi jaringan telepon dengan gelombang radio dalam mengangkut data. Pemancar Internet ini berada pada gelombang radio berfrekuensi 2,4 Gigahertz, yang biasa disebut akses wi-fi (wireless fidelity). Tanpa kabel telepon berarti tak perlu bayar pulsa.
Gelombang ini selanjutnya ditangkap peralatan antena penerima yang kemudian disebarkan lagi ke rumah-rumah. Warga pun bisa menikmati jagat maya dengan kecepatan 128 kilobita per detik (kbps). Bandingkan dengan dial up ke Telkomnet Instant yang berkecepatan kurang dari separuhnya.
Kini ide patungan Internet nirkabel itu telah menyebar ke banyak perumahan kelas menengah atas. Di Bogor, sebut saja ada perumahan Baranangsiang Indah, Bukit Cimanggu Villa, Vila Duta, Vila Indah Pajajaran, Cimanggu Permai, Taman Cimanggu, Indraprasta, Bantar Jati, atau Bogor Baru. ”Mantap, lebih cepat aksesnya, dan tidak takut kabel putus,” ujar Melinda, warga Baranangsiang Indah.
Banyaknya peminat Internet di perumahan ini membuat perusahaan penyedia jasa Internet PT Bonet Utama kebanjiran order. Kini sudah lebih dari 10 perumahan yang memasang Internet secara bersama-sama di Kota Bogor.
Account Manager Bonet, Hanny Purmawati, mengatakan, pemasangan RT/RW Net membutuhkan minimal 5 pelanggan. Setiap orang hanya dikenakan biaya pendaftaran instalasi Rp 550 ribu. Pelanggan bisa memilih akses Internet tanpa batas waktu sebesar Rp 440 ribu perbulan. Pilihan lainnya berupa paket 25 jam per bulan sebesar Rp 88 ribu.
Setelah terdaftar, masing-masing rumah akan mendapatkan nama sandi. ”Kebanyakan mereka memilih paket unlimited,” ujar Hanny. Dengan paket ini pelanggan bisa menggunakan akses Internet selama 24 jam selama sebulan penuh.
Permintaan instalasi Internet ramai-ramai itu juga dialami PC24 Cyber Jakarta. Pengelola Sofianti mengatakan, perusahaannya sedang mengembangkan jaringan Internet nirkabel patungan ini ke wilayah Mataram, Ambon, dan Kalimantan. ”Peluangnya sangat bagus,” kata Sofie. PC24 telah memasang perangkat Internet ini di beberapa perumahan seperti kota wisata Cibubur, Bona Indah Lebak Bulus. Mereka juga menjual alat-alatnya secara terpisah.
Sofie juga menjadi penggagas Internet tanpa jaringan kabel di permukimannya, Vila Cendana Ciputat. Awalnya hanya ada 12 warga yang bersedia urunan membeli tiang pancang dengan dua antena seharga 12 juta. Tiang dengan tinggi sekitar 15 meter mampu menjangkau hingga radius 5 kilometer. Kini jumlah warga bertambah menjadi 50 orang sehingga antenanya juga menjadi empat. ”Wireless lebih aman dan praktis. Tidak usah khawatir kena petir,” kata Sofie.
Pasang Internet secara patungan memang bertujuan untuk menekan biaya. Tapi biaya bisa lebih ditekan dengan kreasi sendiri seperti yang kini dipopulerkan Onno W. Purbo. Dalam beberapa kesempatan seminar, Onno mengatakan, biaya yang dikeluarkan untuk memasang perangkat ini kurang dari Rp 500 ribu. Dana instalasi pun akan tambah murah dengan patungan.
Onno menyebarluaskan gagasan perangkat murah itu setelah terinspirasi oleh seorang teknisi komputer asal Yogyakarta bernama Pak Gun. Alumnus Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 2 Depok, Sleman, itu merancang antena dari wajan, tutup panci, kaleng dan pipa peralon. Ia menamai antenanya itu Wajanbolic E-goen. Dalam tulisan berjudul ”Workshop ‘nDeso’ Membuat Antena Wajanbolic”, Pak Gun memandu peminat antena itu di beberapa situs teknologi informasi. ”Teknik Wajanbolic E-goen sangat kreatif dan menghemat investasi peralatan akses ke Internet,” kata Onno.
Dengan peralatan yang sangat sederhana dan bermodal sekitar Rp 300–350 ribu itu Pak Gun membangun sambungan Internet yang dapat menjangkau wilayah 4-5 kilometer. ”Saya sudah mencoba Pancibolic Pak Gun dan berhasil,” kata Sumarmo, warga perumahan Vila Dago Tol, Pamulang.
Gatot Sutrisno, Sumarmo, Taufik Rahman, Melinda adalah contoh warga perumahan yang berinisiatif menggalang iuran dengan para tetangga. Mereka gemas melihat harga Internet di Indonesia yang selangit dan leletnya minta ampun. (Dari Majalah TEMPO Edisi. 13/XXXIIIIII/21-27 Mei 2007)
Jangan Ragu dengan Rezeki Allah Oleh Sus Woyo Saya mau pergi ke rumah orang tua saya. Waktu itu, anak saya yang masih berumur lima tahun dan menjelang sekolah TK itu menangis ingin ikut. Awalnya saya tidak berencana untuk membawa dia, namun karena tangisnya tidak mau berhenti, akhirnya saya ajak juga. Sebelum berangkat, dia saya beri janji. Agar selama perjalanan nanti jangan jajan. Sebab saya sedang tidak punya uang. Saya hanya ada uang untuk ongkos berangkat ke rumah orang tua saya saja. Selebihnya saya tidak punya apa-apa. Namun, yang namanya anak, walaupun sudah berjanji tidak jajan, begitu melihat berbagai macam barang di pingiran terminal, keinginannya mendadak bangkit. Pertama ia melihat berjejernya para pedagang pakaian. Ia minta dibelikan kaos ala pemain bola dunia. Ia memaksa saya untuk membeli kaos yang bertuliskan salah satu pemain sepak bola Inggris, Beckam. Namun tidak saya kabulkan. Karena saya tidak punya uang untuk itu. Dengan berbagai cara, ia saya hibur agar tidak minta kaos-kaos itu. Ia segera saya bawa ke tempat di mana banyak berjejer delman. Sebab dengan begitu ia akan lupa karena melihat banyak kuda di situ. Namun sial, ternyata di kompleks itu juga ada pedagang buah yang begitu menarik menata dagangannya. Ia minta dibelikan apel. Permintaan itupun tidak saya kabulkan. Sekedar untuk menghibur dia, saya bisikan kalimat padanya. "Sabar ya… nanti di rumah nenek ada apel." Cepat-cepat saya bawa anak saya ke tempat bis jurusan daerah orang tua saya. Ia segera saya ajak naik, dan duduk di depan sendiri, di samping sang sopir. Ia agak terhibur, karena banyak berlalu lalang truk gandeng dan kendaraan tangki pertamina yang besar-besar itu. Sebab ia sangat senang kalau melihat kendaraan besar semacam itu. Saya lega. Saya lebih tenang karena sudah tidak akan melewati pasar lagi. Dengan demikian anak saya tidak akan minta jajan lagi. Saya duduk sambil merangkul anak saya. Dia begitu nikmat melihat lalu lalangnya kendaraan di depan kami. Ia sudah lupa dengan apa-apa yang ia minta di sepanjang perjalaan tadi. Sebenarnya saya juga merasa kasihan. Seandainya saya punya uang cukup, tentu saya tidak akan berbuat sekejam itu. Tentu saya akan menuruti kehendaknya, walaupun mungkin tidak semua saya turuti. Orang tua mana sih yang tidak ingin memberikan sesuatu kepada anaknya? Sedang asyik-asyiknya, kami menikmati berbagai macam kendaraan di depan bis yang kami tumpangi, tiba-tiba seorang ibu naik dan duduk persis di sebelah saya. Sebuah keranjang kecil berisi berbagai macam barang dari pasar ada dalam keranjang tersebut. Kami saling berbasa-basi. Ternyata ia satu jurusan dengan saya. Beberapa menit sebelum bis jalan, perempuan itu menyodorkan tiga buah apel kepada anak saya. Saya kaget. Seolah perempuan itu tahu bahwa anak saya sedang menginginkan apel. Anak saya langsung memakannya dengan lahap. Saya melihat nikmatnya anak saya makan apel itu dengan linangan air mata. Saya tak bisa membelikan buah itu, tapi Allah tahu tentang keinginan anak saya. Sehingga lewat perempuan itu dia dapat menikmati apel. Betul-betul tidak saya sangka sebelumnya. Betul-betul di luar jangkauan nalar saya. Sampai di rumah orang tua, saya lebih kaget lagi. Saya sama sekali tidak membayangkan saudara-saudara saya akan berkerumun menemui saya. Dan mereka seolah berlomba memberikan uang kepada anak saya. Sampai nenek saya yang seharusnya saya beri uang justru memberikan rupiah kepada anak saya. Seolah mereka tahu bahwa kami sedang tidak mempunyai uang. Seolah mereka tahu bahwa saya ada dalam keadaan sangat kesulitan dalam hal keuangan. Sepulang dari rumah bapak ibu saya, saku celana dan baju anak saya tak ada yang kosong dari lembaran-lembaran uang. Ahirnya uang itu bisa dipergunakan anak saya untuk membeli baju bola yang sejak lama ia inginkan. Bisa membeli buah apel dan bakso di pasar. Dan yang lebih mengharukan adalah bisa membantu saya untuk mengisi arisan di lingkungan RT saya. Sambil melihat anak saya menikmati semangkok bakso, saya hanya bisa bergumam, bahwa rizki Allah datang selalu tak terduga. Walaupun saya sedang tidak punya usaha, karena sedang mengalami kebangkrutan, tapi Allah tetap menyodorkan rizki kepada kami. Sebuah keyakinan tentang ke-maha besar-an Allah, ahirnya tumbuh kembali. Puing-puing kesusahan hidup dan keraguan tentang rizki Allah semakin terpendam. Apalagi kalau mengingat firman Allah, - Dan tak ada suatu binatang melatapun di muka bumi ini melainka Allah lah yang memberi rezekinya-, maka keraguan itu makin tidak ada. Sayang seribu sayang, hamba yang kecil ini masih begitu gampang dan mudah dihinggapi rasa ketakutan tidak kebagian rizki.
Oase Iman: KERDIL DI HADAPAN SANG PENCIPTA Sus Woyo
Beberapa waktu lalu, saya diingatkan oleh salah satu imam masjid, agar ikut sholat hajat sesudah sembahyang Isya. Saya bertanya-tanya, sholat hajat untuk apa? Kenapa mesti berjamaah juga? Pikir saya. Ternyata Sultan Brunei, Sultan Hassanal Bolkiah, yang bergelar Mu'izzadin Waddaulah itu, baru saja memerintahkan kepada seluruh rakyatnya, untuk melakukan shalat hajat, karena di sepanjang perairan negara itu air lautnya sedang tercemar warna kemerah-merahan. Jadi sangat berbahaya bagi kelangsungan ekosistem laut dan tentu saja juga bagi rakyat Brunei sendiri yang sangat gemar makan ikan.
Shalat hajat itu berlangsung terus selama beberapa bulan, sampai air laut kembali pada warna semula, dan tidak berbahaya lagi. Di samping sembahyang hajat, juga disertai dengan doa-doa memohon perlindungan dari bala dan apa-apa yang tidak diinginkan oleh kita semua.
Tidak hanya itu saja, dulu ketika hutan-hutan di Kalimantan, yang masuk wilayah Indonesia,dilanda kebakaran besar-besaran, dan asapnya sampai menutupi langit Brunei, pemimpin berusia 60 tahun itu juga menganjurkan rakyatnya untuk shalat yang sama. Pokoknya setiap ada fenomena alam yang cukup membahayan rakyatnya, Sultan pasti menyuruhnya untuk sholat hajat dan mengadakan permohonan khusus. Termasuk ketika ada SARS, penyakit pernapasan yang mematikan itu, melanda sebagian Asia.
Dan sekarang ini, tatkala penyakit membahayakan flu burung sedang merebak ke mana-mana, Sultan juga menghimbau rakyatnya untuk banyak-banyak berdoa kepada Allah. Sampai-sampai hampir setiap dua atau tiga jam sekali, radio dan televisi pemerintah negara itu selalu mengumandangkan sebuah doa khusus untuk memohon perlindungan dari merebaknya penyakit yang disebarkan oleh virus dari jenis burung itu.
Suatu malam beberapa hari lalu, saya menjadi lebih paham dan tak berhenti untuk mengangguk-anggukan kepala ketika salah satu pemimpin senior di Asia Tenggara itu berkata di hadapan rakyatnya pada suatu acara.
"Kami ini mahluk Allah. Hamba yang sangat kerdil di hadapanNya. Kita tidak boleh sombong dengan teknologi yang dihasilkan oleh otak-otak manusia. Biarpun ilmu pengetahuan manusia telah menemukan berbagai cara untuk menangkal segala kemungkinan bahaya yang terjadi di dunia ini, tetapi doa kita kepadaNya adalah sesuatu yang mutlak harus kita panjatkan."
Pantas saja, pemimpin yang masih kelihatan gagah ini tak malu-malu menengadahkan tangan di lapangan terbang, berdoa kepada Allah, setiap kali akan pergi ke luar negri atau pulang dari suatu kunjungan ke luar negri, untuk memohon perlindungan dariNya. Karena memang kita tak ada apa-apanya di hadapan Sang Pencipta.
[www.eramuslim.com]
Dalam sebuah kitab Imam Al-Ghazali menceritakan pada suatu ketika tatkala Nabi Daud A.S sedang duduk dalam suraunya sambil membaca kitab az-Zabur, dengan tiba-tiba dia terpandang seekor ulat merah pada debu. Lalu Nabi Daud A.S. berkata pada dirinya, "Apa yang dikehendaki Allah dengan ulat ini?" Baru saja Nabi Daud selesai berkata begitu, maka Allah pun mengizinkan ulat merah itu berkata-kata. Lalu ulat merah itu pun mula berkata-kata kepada Nabi Daud A.S. "Wahai Nabi Allah! Allah S.W.T telah mengilhamkan kepadaku untuk membaca 'Subhanallahu walhamdulillahi wala ilaha illallahu wallahu akbar' setiap hari sebanyak 1000 kali dan pada malamnya Allah mengilhamkan kepadaku supaya membaca 'Allahumma solli ala Muhammadin annabiyyil ummiyyi wa ala alihi wa sohbihi wa sallim' setiap malam sebanyak 1000 kali. Setelah ulat merah itu berkata demikian, maka dia pun bertanya kepada Nabi Daud A.S. "Apakah yang dapat kamu katakan kepadaku agar aku dapat faedah darimu?" Akhirnya Nabi Daud menyadari akan kekhilafannya karena memandang remeh akan ulat tersebut, dan dia sangat takut kepada Allah S.W.T. maka Nabi Daud A.S. pun bertaubat dan menyerah diri kepada Allah S.W.T. Begitulah sikap para Nabi A.S. apabila mereka menyadari kekhilafan yang telah dilakukan maka dengan segera mereka akan bertaubat dan berserah diri kepada Allah S.W.T. Kisah-kisah yang berlaku pada zaman para nabi bukanlah untuk kita ingat sebagai bahan sejarah, tetapi hendaklah kita jadikan sebagai teladan supaya kita tidak memandang rendah kepada apa dan siapa saja makhluk Allah yang berada di bumi yang sama-sama kita huni ini.
Abu Yazid Al Busthami, pelopor sufi, pada suatu hari pernah didatangi seorang lelaki yang wajahnya kusam dan keningnya selalu berkerut.Dengan murung lelaki itu mengadu, "Tuan Guru, sepanjang hidup saya, rasanya tak pernah lepas saya beribadah kepada Allah. Orang lain sudah lelap, saya masih bermunajat. Isteri saya belum bangun, saya sudah mengaji. Saya juga bukan pemalas yang enggan mencari rezeki.
Tetapi mengapa saya selalu malang dan kehidupan saya penuh kesulitan?" Sang Guru menjawab sederhana, "Perbaiki penampilanmu dan rubahlah roman mukamu. Kau tahu, Rasulullah SAW adalah penduduk dunia yang miskin namun wajahnya tak pernah keruh dan selalu ceria. Sebab menurut Rasulullah SAW, salah satu tanda penghuni neraka ialah muka masam yang membuat orang curiga kepadanya." Lelaki itu tertunduk. Ia pun berjanji akan memperbaiki penampilannya.
Mulai hari itu, wajahnya senantiasa berseri. Setiap kesedihan diterima dengan sabar, tanpa mengeluh. Alhamdullilah sesudah itu ia tak pernah datang lagi untuk berkeluh kesah. Keserasian selalu dijaga. Sikapnya ramah, wajahnya senantiasa mengulum senyum bersahabat. Roman mukanya berseri. Tak heran jika Imam Hasan Al Basri berpendapat, awal keberhasilan suatu pekerjaan adalah roman muka yang ramah dan penuh senyum. Bahkan Rasulullah SAW menegaskan, senyum adalah sedekah paling murah tetapi paling besar pahalanya. Demikian pula seorang suami atau seorang isteri. Alangkah celakanya rumah tangga jika suami isteri selalu berwajah tegang. Begitu juga celakanya persahabatan sekiranya dikalangan mereka saling tidak berteguran. Sebab tak ada persoalan yang diselesaikan dengan mudah melalui kekeruhan dan ketegangan. Dalam hati yang tenang, pikiran yang dingin dan wajah cerah, Insya Allah, apapun persoalannya nescaya dapat diatasi. Inilah yang dinamakan keluarga sakinah, yang didalamnya penuh dengan cinta dan kasih sayang.
suatu hari...
Khalifah Harun Ar-Rasyid merasa kering jiwanya, gundah... kemudian ia memanggil seorang ulama menghadapnya.
sang ulama pun datang kepadanya dan menghadap Khalifah Harun Ar-Rasyid
"Wahai syekh, sekarang saya merasa gundah, jiwa saya kering, apa yang menyebabkannya" , tanya Khalifah,
pelayan khalifah datang sambil membawa gelas yang berisi air untuk beliau berdua.
ketika khalifah hendak meminum air itu...
"Wahai khalifah, apa yang rasakan ketika suatu saat Anda akan sangat kehausan , dan berjuang ke sana kemari untuk meminum air, namun tidak ada air yang Anda dapatkan " tanya ulama tersebut.
"Saya akan berjuang keras, mencari kemanapun untuk mencari air itu, bahkan saya akan menyerahkan sebagian harta saya untuk membeli segelas air ini...." jawab sang khalifah....
sang ulama pun geleng-geleng kepala...
kemudia ia bertanya kembali (setelah melihat khalifah meminum air itu)... "Wahai khalifah, bagaimana bila air yang Anda minum itu tidak dapat dikeluarkan dari tubuh Anda (baca : (-b.a.k - buang air kecil) ?"
"Apalah artinya harta, anak, istri, kerajaan , dan kekuasaanku kalau aku tidak bisa mengeluarkan air ini dari tubuhku (-b.a.k-), maka akan aku keluarkan semua hartaku untuk membuat air keluar dair tubuhku (berobat, atau yang lain...-- pokoknya ikhtiar --)" jawab khalifah
kemudian sang ulama pun geleng-geleng kepala... sang khaifah pun kemudian terdiam, . . . . . . . . .
merenung . . .
kemudian ia menangis ... menangsi dengan sedih...sampai semalaman ia tak henti-hentinya mengeluarkan air matanya...
"Ya Allah, ampunilah dosaku...hamba ini telah sering melalaikan-Mu,
sungguh besar karunia-Mu, namun jiwa ini tiada pernah mensyukuri,
sungguh besar rahmat-Mu, namun jasad ini tak henti-hentinya bermaksiat kepada-Mu, ...
" beliau terus berdoa , bersimpuh, bermunajat pada Dzat Yang Maha Memiliki segalanya... esoknya ... ia menyerahkan kekuasaan / kerajaannya kepada orang lain... "Wahai Fulan, kuserahkan kerajaanku kepadamu, akan kugunakan sisa hidupku untuk mendekatkan diriku kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala" Hikmah :
1. Mari kita renungkan nikmat Allah yang telah dikaruniakan kepada kita, sudah terlalu banyak, namun sampai sejauh mana kita mensyukurinya..
2. Bayangkan kalo ketika Anda membaca kisah ini, kemudian malaikat maut menjemputAnda untuk dibawa menghadap-Nya, sudahkah kita siap??
3. Mata, lisan, telinga, kaki, tangan, bagaimana seandainya nikmat2 itudicabut satupersatu oleh Dzat yang Maha Memberi
4. Apakah ketika kita minum, makan, belajar, bekerja (dan aktivitas2 lain), kita ingat bahwa semua itu adalah pemberian Allah Subhanahu Wa Ta'ala??
5. Bagaimanakah cara kita mensyukuri nikmat2 yang telah dianugerahkan-Nya kpada kita??
dan masih banyak lagi...
marilah banyak2 kita merenungi dan memikirkan bagaimana ikhtiar kita untuk menjadi hamba yang senantiasa bersyukur ... dan mengoptimalkan segala apa yang Ia karuniakan kepada kita sebabagai sarana untuk lebih mendekatkan diri kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala ....
Wallahu A'lam bi shshowab...
Satu hari Ratu Shella merasa sungguh "boring 'n bete abis", jadi dia tanya Bendahara, "Bendahara, siapa paling pandai saat ini?" "Bo Tat" jawab Bendahara. Shella pun manggil Bo Tat'.
N sang ratu bertitah: "Kalau kamu pandai, coba buat satu cerita seratus kata tapi setiap kata mesti dimulai dengan huruf 'J'." Terperanjatlah Bo Tat, tapi setelah berfikir sejenak, diapun mulai bercerita:
Jeng Juminten janda judes, jelek jerawatan, jari jempolnya jorok. Jeng juminten jajal jualan jamu jarak jauh Jogya-Jakarta. Jamu jagoannya: jamu jahe. "Jamu-jamuuu..., jamu jahe-jamu jaheee...!" Juminten jerit-jerit jajakan jamunya, jelajahi jalanan. Jariknya jatuh, Juminten jatuh jumpalitan. Jeng Juminten jerit-jerit:
"Jarikku jatuh, jarikku jatuh..." Juminten jengkel, jualan jamunya jungkir-jungkiran, jadi jemu juga. Juminten jumpa Jack, jejaka Jawa jomblo, juragan jengkol, jantan, juara judo. Jantungnya Jeng Juminten janda judes jadi jedag-jedug. Juminten janji jera jualan jamu, jadi julietnya Jack. Johny justru jadi jelous Juminten jadi juliet-nya Jack. Johny juga jejaka jomblo, jalang, juga jangkung. Julukannya, Johny Jago Joget. "Jieehhh, Jack jejaka Jawa, Jum?" joke-nya Johny. Jakunnya jadi jungkat-jungkit jelalatan jenguk Juminten. "Jangan jealous, John..." jawab Juminten.
Jumat, Johny jambret, jagoannya jembatan Joglo jarinya jawil-jawil jerawatnya Juminten. Juminten jerit-jerit: "Jack, Jack, Johny jahil, jawil-jawil!!!" Jack jumping-in jalan, jembatan juga jemuran. Jack jegal Johny, Jebreeet..., Jack jotos Johny. Jidatnya Johny jenong, jadi jontor juga jendol... jeleekk. "John, jangan jahilin Juminten...!" jerit Jack. Jantungnya Johny jedot-jedotan, "Janji, Jack, janji... Johnny jera," jawab Johny. Jack jadikan Johny join jualan jajan jejer Juminten. Jhony jadi jongosnya Jack-Juminten, jagain jongko, jualan jus jengkol jajanan jurumudi jurusan Jogja-Jombang, julukannya Jus Jengkol Johny "Jolly-jolly Jumper." Jumpalagi, jek........!!!
Jeringatan : Jangan joba-joba jikin jerita jayak jini jagi ja...!!! JUSAH...!!!
| |