Achmad Falatehan Personal Blog

ReviewReviewReviewReviewJangan Ragu dengan Rezeki AllahJan 29, '07 12:40 AM
for everyone
Category:Other
Jangan Ragu dengan Rezeki Allah

Oleh Sus Woyo

Saya mau pergi ke rumah orang tua saya. Waktu itu, anak saya yang
masih berumur lima tahun dan menjelang sekolah TK itu menangis
ingin ikut. Awalnya saya tidak berencana untuk membawa dia, namun
karena tangisnya tidak mau berhenti, akhirnya saya ajak juga.

Sebelum berangkat, dia saya beri janji. Agar selama perjalanan nanti
jangan jajan. Sebab saya sedang tidak punya uang. Saya hanya ada uang
untuk ongkos berangkat ke rumah orang tua saya saja. Selebihnya saya
tidak punya apa-apa.

Namun, yang namanya anak, walaupun sudah berjanji tidak jajan, begitu
melihat berbagai macam barang di pingiran terminal, keinginannya
mendadak bangkit. Pertama ia melihat berjejernya para pedagang pakaian.
Ia minta dibelikan kaos ala pemain bola dunia. Ia memaksa saya untuk
membeli kaos yang bertuliskan salah satu pemain sepak bola Inggris, Beckam.
Namun tidak saya kabulkan. Karena saya tidak punya uang untuk itu.

Dengan berbagai cara, ia saya hibur agar tidak minta kaos-kaos itu.
Ia segera saya bawa ke tempat di mana banyak berjejer delman.
Sebab dengan begitu ia akan lupa karena melihat banyak kuda di situ.
Namun sial, ternyata di kompleks itu juga ada pedagang buah yang
begitu menarik menata dagangannya. Ia minta dibelikan apel. Permintaan
itupun tidak saya kabulkan. Sekedar untuk menghibur dia, saya bisikan
kalimat padanya. "Sabar ya… nanti di rumah nenek ada apel."

Cepat-cepat saya bawa anak saya ke tempat bis jurusan daerah orang tua
saya. Ia segera saya ajak naik, dan duduk di depan sendiri, di samping sang
sopir. Ia agak terhibur, karena banyak berlalu lalang truk gandeng dan kendaraan
tangki pertamina yang besar-besar itu. Sebab ia sangat senang kalau melihat
kendaraan besar semacam itu.

Saya lega. Saya lebih tenang karena sudah tidak akan melewati pasar lagi.
Dengan demikian anak saya tidak akan minta jajan lagi. Saya duduk
sambil merangkul anak saya. Dia begitu nikmat melihat lalu lalangnya
kendaraan di depan kami. Ia sudah lupa dengan apa-apa yang ia minta
di sepanjang perjalaan tadi.

Sebenarnya saya juga merasa kasihan. Seandainya saya punya uang
cukup, tentu saya tidak akan berbuat sekejam itu. Tentu saya akan menuruti
kehendaknya, walaupun mungkin tidak semua saya turuti. Orang tua mana
sih yang tidak ingin memberikan sesuatu kepada anaknya?

Sedang asyik-asyiknya, kami menikmati berbagai macam kendaraan di
depan bis yang kami tumpangi, tiba-tiba seorang ibu naik dan duduk persis
di sebelah saya. Sebuah keranjang kecil berisi berbagai macam barang dari
pasar ada dalam keranjang tersebut.

Kami saling berbasa-basi. Ternyata ia satu jurusan dengan saya. Beberapa
menit sebelum bis jalan, perempuan itu menyodorkan tiga buah apel kepada
anak saya. Saya kaget. Seolah perempuan itu tahu bahwa anak saya sedang
menginginkan apel. Anak saya langsung memakannya dengan lahap. Saya
melihat nikmatnya anak saya makan apel itu dengan linangan air mata.
Saya tak bisa membelikan buah itu, tapi Allah tahu tentang keinginan anak
saya. Sehingga lewat perempuan itu dia dapat menikmati apel. Betul-betul
tidak saya sangka sebelumnya. Betul-betul di luar jangkauan nalar saya.

Sampai di rumah orang tua, saya lebih kaget lagi. Saya sama sekali tidak
membayangkan saudara-saudara saya akan berkerumun menemui saya. Dan
mereka seolah berlomba memberikan uang kepada anak saya. Sampai nenek
saya yang seharusnya saya beri uang justru memberikan rupiah kepada anak
saya. Seolah mereka tahu bahwa kami sedang tidak mempunyai uang. Seolah
mereka tahu bahwa saya ada dalam keadaan sangat kesulitan dalam hal keuangan.

Sepulang dari rumah bapak ibu saya, saku celana dan baju anak saya tak ada
yang kosong dari lembaran-lembaran uang. Ahirnya uang itu bisa dipergunakan
anak saya untuk membeli baju bola yang sejak lama ia inginkan. Bisa membeli
buah apel dan bakso di pasar. Dan yang lebih mengharukan adalah bisa
membantu saya untuk mengisi arisan di lingkungan RT saya.

Sambil melihat anak saya menikmati semangkok bakso, saya hanya bisa
bergumam, bahwa rizki Allah datang selalu tak terduga. Walaupun saya
sedang tidak punya usaha, karena sedang mengalami kebangkrutan, tapi
Allah tetap menyodorkan rizki kepada kami.

Sebuah keyakinan tentang ke-maha besar-an Allah, ahirnya tumbuh kembali.
Puing-puing kesusahan hidup dan keraguan tentang rizki Allah semakin
terpendam. Apalagi kalau mengingat firman Allah, - Dan tak ada suatu
binatang melatapun di muka bumi ini melainka Allah lah yang memberi
rezekinya-, maka keraguan itu makin tidak ada. Sayang seribu sayang,
hamba yang kecil ini masih begitu gampang dan mudah dihinggapi rasa ketakutan tidak kebagian rizki.

wsyukur wrote on Jan 29, '07
jadi teringat akan apa yg pernah sy alami juga...

Wama min daabbatin fil ardhi illa alallahi rizquha..

jzklh..
keep posting tausyiah..
achmadf wrote on Jan 29, '07
wsyukur said
jzklh..
keep posting tausyiah..
Insya Allah, ;))
bilqiskhalisa wrote on Feb 5, '07
wah ini cerita saya udah baca kalau ngga salah di eramuslim dibagian oase .saya membacanya jg ikut terharu biru.
tapi emang benar dulu saya juga begitu masih ragu waktu melahirkan anak kedua ,karena suami lg ngga kerja alias ngangur sampai saya punya perasaan takut akan kelaparan tp saya salah besar (semoga saya dimaafkan atas khilafan saya oleh ALLAH SWT) setelah itu suamiku banyak yg nawarin kerja Alhamdulilah Allah itu maha kaya.
Sampai sekarang saya selalu bersyukur karena bisa menikmati pemberianya.
achmadf wrote on Sep 27, '07
ReviewReviewReviewReviewReview
setelah itu suamiku banyak yg nawarin kerja Alhamdulilah Allah itu maha kaya.
Sampai sekarang saya selalu bersyukur karena bisa menikmati pemberianya.
alhamdulillah
amin ya rabbal alamin
peristiwa itu tidak jauh berbeda dengan diri saya
Add a Comment
How would you rate this thing? (optional)
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help